← Kembali ke Daftar Episode

Ch 1: Episode 1 — Putaran Yang Tak Berujung, 1.

580 words • ~3 min read

[Kisah cinta antara dua remaja SMA pada tahun 1980: Dilema apa yang akan mereka berdua hadapi kali ini?] -Dadang 1980 SMAN 8 Jakarta Sebuah trikuel dari film sebelumnya yang berlatar di perkuliahan dan perkantoran, namun kini balik ke masa SMA? Iseng, kucoba membuka kolom komentar aplikasi video di ponselku. Menggulirnya secara perlahan, baris demi baris. -Adies009: Lah, aku mengira kisah percintaan mereka ini dimulai waktu sudah jadi mahasiswa? -Simpul_Kera: Milking aja terus, hahaha. "Milking aja terus," Gumamku pelan, meniru salah satu tulisan di layar.

Ku tekan daya untuk mematikan ponsel, lalu memasukkannya kembali ke dalam saku jaket lusuh ku. Saat ini aku tengah bersantai di atas sebuah bangku kayu di pinggir jalan raya. Pekerjaanku adalah seorang kurir paket, dan duduk termenung ini adalah kebiasaan yang sering ku lakukan untuk beristirahat sebentar. Bagaimanapun, aku sendiri juga butuh hiburan di sela jam kerja yang sempit ini, tahu. Kualihkan pandangan ke arah sepeda motorku yang masih terparkir di pinggir trotoar. Untung saja tidak dicuri orang lain. Akan tetapi, ketakutanku yang sebenarnya baru saja dimulai.

Mataku tertuju ke arah keranjang belakang. Di sana, seonggok paket antaran yang masih ada. "Paket? Apa aku kelupaan sesuatu?" Gumamku. Kucoba mengingatnya, dan benar saja, paket itu milik pak Adrian, salah satu pelanggan yang baru saja kulewatkan. Sial, nanti Paman pasti akan marah lagi padaku! Sambil menahan napas, kutarik sedikit lengan jaket ke belakang untuk mengintip jarum jam tanganku.

[WAKTU MENUNJUKKAN PUKUL 16.43]

Aku bengong sesaat. Kesadaran logisku mendadak dipukul mundur. Dengan panik, kuambil kembali ponsel di saku dan membuka aplikasi pesan instan. Sebuah baris notifikasi pesan tidak terbaca langsung menyambut mataku. [5 PESAN BELUM DIBACA DARI PAMAN] [3 PESAN BELUM DIBACA DARI ADRIANNOOP] Tanpa basa-basi lagi, aku langsung bangkit dari kursi dan segera menuju ke arah sepeda motor. Memutar kunci dan dengan cepat ku tancap gas. Sudah tentu aku pasti akan diomelin habis-habisan. Aku sendiri bahkan tidak berani untuk membuka pesan dari Paman...!

Ilustrasi

Sayangnya, tanggal sial tidak ada yang tahu. Baru beberapa ratus meter melaju, seketika sebuah kemacetan datang menyambutku. Lautan kendaraan mengunci celah jalanan. Ini sudah jamnya orang-orang pulang sekolah dan kerja. Bahkan, sepeda motorku sendiri ikut terjebak di tengah keramaian yang bising ini. Gigi gerahamku saling bersentuhan dengan keras. Suara klakson yang bersahut-sahutan mendadak memicu detak aneh di dadaku. Pikiranku mulai dipenuhi oleh adegan drama yang tidak seharusnya untuk dipikirkan—sebuah adegan dimana aku diusir oleh Paman. Aku tidak mau itu terjadi!

Dengan cepat isi kepalaku berputar, memikirkan rencana mendadak di tengah situasi terjepit ini. Mengintip kembali layar ponselku, menekan pembagian lokasi rumah pak Adrian. [JARAK TEMPUH 6 KILOMETER; 10 MENIT] Hari ini aku benar-benar sangat tidak beruntung. Pikiranku semakin liar, membayangkan sebuah skenario yang sangat tegang yang sangat ku benci. Ini membuatku sulit untuk mencari solusi, karena aku butuh waktu sekitar 9 menit untuk sampai tujuan.

Memperbesar layar peta di ponsel, aku melihat sebuah jalan sempit yang saling terhubung—dan itu tepat mengarah ke tempat tujuanku. Ini dia! Aku menoleh keadaan sekitar, tidak ada petugas keamanan. Ini adalah kesempatan yang tidak bisa ku lewatkan. Dengan cepat aku menurunkan standar sepeda motor dan memarkirkannya di tengah kerumunan. "Hei!" teriak salah satu pengguna motor di belakangku. Terkejut, dengan berat hati aku terpaksa melakukannya sembari berlari menjauh. "M-maaf! Saya izin nitip sepeda motor saya disini." seruku tanpa menoleh lagi.

[WAKTU MENUNJUKKAN PUKUL 16.54]

Tangan kiriku sangat sibuk menggenggam kantong paket dengan sangat keras. Langkah kakiku tanpa sengaja menginjak ekor kucing yang tengah duduk santai di sudut gang. Hewan itu langsung memekik melengking sebelum akhirnya berlari menjauh menyusup ke sela rumah. "Maafkan aku, kucing kecil!" Pandangan orang-orang tertuju kearku. Pikiranku terlalu berfokus pada pengantaran, sampai-sampai aku memilih untuk menghiraukan tatapan aneh mereka.

Saat jalan buntu menghadang berupa tembok tinggi menghadang di depan, tidak ada pilihan lain bagiku selain memanjatnya. Kantong paket ku gigit erat-erat di mulut. Jari-jemari mencengkeram semen kasar dinding pembatas yang tinggi. Tubuh dipaksa naik, sementara dadaku naik-turun dalam ritme yang semakin kacau. Saat berhasil melompat ke seberang, paru-paruku tersiksa. Udara sore yang kuhirup terasa begitu tipis dan menyaikkan tenggorokanku. Mencoba menghela napas sembari berlari, benar-benar menyiksa. Seluruh tubuh benar-benar bekerja sangat ekstra kali ini. Kuharap sebentar lagi sampai!

[JARAK TEMPUH 153 METER; 43 DETIK]

Melihat angka itu, otot wajahku yang tegang langsung memaksakan senyum bahagia. Sebentar lagi adegan ini akan berakhir. Keluar melalui celah di antara dua rumah, aku menoleh ke arah kiri dan kanan. Sambil mengatur napas yang masih memburu, kulihat layar ponsel. Keringat hangat mengguyur tubuhku. Bajuku sampai basah kuyup dan mengeluarkan bau menyengat. Sepertinya aku benar-benar butuh mandi setelah ini. "Rumah ungu, rumah ungu, rumah ungu" gumamku, mengulanginya seperti mantra.