Angin terbelah. Sebuah gerakan cepat melesat di antara reruntuhan. "Hyatt!" Bunyi benturan keras. Debu-debu beterbangan. Kutekan sabukku tiga kali. Serangan pamungkas. Pertarungan yang melelahkan ini harus segera berakhir. Sekujur tubuhku menyala. Kepalan tanganku mulai diselimuti cahaya. Siap untuk melesatkan serangan terakhir. 1!... 2!... 3! Hembusan angin melesat ke depanku. Dengan cepat aku menghindar. Pukulanku kuayunkan ke arah perut sang monster. GREAT FINISH! "Ugh...!" Ledakan menggelegar. Tanah bergetar. ... Tadi itu adalah aksi pertarungan dari salah satu seri pahlawan kesukaanku. Saat ini aku tengah menonton film di televisi tabung kecil. Layar televisi bersinar terang, mengisi kekosongan di kamar gelapku. 'Kenapa alurnya jadi berantakan gini???' gumamku kecewa. Film aksi Jepang yang biasanya punya struktur solid ini mendadak hambar dan dipaksakan. ... Tunggu dulu, sebelumnya aku tengah mengantarkan paket milik pak Adrian. Iya kan...? Kuambil ponsel, membuka aplikasi pengantaran. Mencari namanya dan terlihat tulisan dengan berwarna hijau: [Paket Telah Terkirim] Aku menghela napas lega. Tapi, entah mengapa masih ada yang terasa aneh di kepalaku. ... Seketika terdengar suara ketukan pintu, memalingkan perhatianku. Lalu pintu berderit terbuka. Sinar cahaya yang sangat terang masuk ke dalam kamarku—melebihi cahaya layar televisi itu sendiri. "Teguh. Paman sudah menyiapkan makan malam, ingin makan bersama?" "Baik Paman." Kutekan tombol jeda. Perlahan menuju ke sisi ruangan yang begitu terang. Di depan terlihat makanan kesukaanku. Ayam kentaki! Dengan penuh semangat aku duduk di kursi makanku dan menyantapnya bersama Paman. Oh iya, aku lupa untuk kenalan. Namaku Teguh. Teguh Karya. Biasanya orang-orang selalu menganggapku seorang aktor maupun sutradara, hanya karena mendengar namaku. Ini juga terjadi beberapa hari lalu. "Perkenalkan, aku Teguh Karya. Panggil saja Teguh!" "Karya? Apa kau aktor muda, ataukah kau anak dari sutradara?" "Bukan, bukan." "Ohh... aku mengira kamu demikian, hahaha..." "Hehe..." Canggung. "Teguh Karya" adalah nama yang kudapatkan dari ayahku dulu. Ia mengatakan kalau namaku adalah sebuah keberkahan. Selalu berdiri kokoh. Dan ia juga bilang kalau aku adalah "Karya" terbaiknya. Nama penuh makna. Namun... apakah aku pantas? Aku bahkan bukan dari nama terpandang yang memiliki latar belakang dunia perfilman. Aku hanya seorang anak muda berusia 17 tahun. Belum pernah bersekolah. Sekarang ini aku bekerja sebagai kurir paket—Pamanku memberikan pekerjaan ini untukku. Hobiku tentu saja menonton film, seperti yang sudah kalian lihat sebelumnya. Sayangnya aku tidak memiliki orang lain yang bisa untuk ku ajak berbagi selain Paman. Ia adalah satu-satunya sosok yang telah mengubah hidupku. Dia yang mengenalkanku pada dunia film. Akupun menoleh, "Paman sudah mau balik?" Paman menatapku, tersenyum. "Maaf. Belakangan ini Paman tidak bisa sering ketemu denganmu." Akhir-akhir ini ia sering bepergian. Waktunya terbatas untuk dihabiskan bersamaku. Makannya juga terburu-buru. Apakah belakangan ini Paman tengah sibuk? "Hei, Teguh." "Ya?" Tatapannya kali ini cukup serius. "Kamu masih menepati janjimu itu kan?" Pertanyaan itu lagi, pertanyaan yang sering kudengar, bahkan sejak pertama kali hidupku terikat dengannya. "Ahh, aku benar-benar menepatinya. Tenang saja, rahasiaku tidak bocor," tegasku. Senyumannya kembali terukir, kini tergambar sebuah kebahagiaan. "Syukurlah. Paman khawatir sama kamu. Maaf tidak bisa selalu ada." Aku senang. Karena hanya Paman lah yang peduli dan sayang denganku di dunia ini. Tidak ada narasi palsu di antara kami. Kulihat alat aneh yang menempel di dada kiriku—alat yang sudah menempel sejak aku masih kecil. Rahasia yang selama ini tidak boleh aku bongkar ke banyak orang. * Makan malam telah usai. Paman berpamitan dan akan kembali lagi di lain waktu. Kami sama-sama melambaikan tangan. Pintu tertutup. Suasana hening kembali. Aku masuk ke dalam kamar gelapku. Mengunci pintu. Berbaring di kasur. Kulihat televisi masih menyala, memperlihatkan film sebelumnya yang tadi terhenti. Jadi malas nonton. Kumatikan televisinya. Ruangan dengan cepat kembali gelap total. "Bosan..." Memikirkan apa yang akan ku lakukan selanjutnya. Dan tiba-tiba ponselku berdering di saku celana. Kuambil ponselku. Kutekan tombol aktif dan langsung disambut dengan banyaknya notifikasi yang belum sempat kubuka. [8 PESAN DARI 2 CHAT YANG BELUM DIBACA] [INSTAGREM: BOCORAN AKHIR CERITA DARI SERIAL KAMEN R...] Apa? Baru episode 9 saja, akhir ceritanya sudah bocor ke publik??? dengan mulut menganga. Malas sekali membaca pesan, ketika hal lain jauh lebih menarik. Yang penting itu bukan pesan dari Paman. Karena penasaran, kutekan notifikasi yang dibawah—yang mengarahkanku ke salah satu akun dari penggemar seri yang serupa. [Deskripsi: Apakah akhir ceritanya akan benar-benar bagus ataukah buruk??? Simak pembahasan terbaru di sini: https/searchji...] Padahal ceritanya baru berjalan, akan tetapi banyak sekali informasi yang bocor. Menekan tombol kolom komentar, menggulir perlahan. Reaksi dari para penggemar bermacam-macam. -Freaky_Restu: Pasti buruk sih, soalnya episode 9 tadi saja sangat ampas, hahaha -Gusanana: @Freaky_Restu Hahahaha, udah gak ada harapan lagi sih. Mereka langsung menilai semuanya hanya karena menonton episode 9? Ku akui kalau episode yang baru saja kutonton sangat ampas. Setidaknya berilah kesempatan. -Febrian_Dikeido10: Fiks, sampah! Kugulir terus. Terus. Terus. Semua komentar hanya berisi hujatan. 'Enak banget ya nilai cerita sembarangan.' tanganku menggenggam ponsel dengan keras. Semua komentar itu membuatku semakin geram. Kulewati postingan itu. Mencari dan menonton konten per konten, hingga waktu menunjukkan pukul 02.13 dini hari. Mataku perih! sembari mengusap kedua mataku. Sepertinya aku harus tidur. Tapi, saat hendak mematikan ponsel. Terdengar suara dering. Sebuah berita masuk—menampilkan kasus penemuan mayat. [Berita_Terkini: Sebuah jasad ditemukan di bawah kolong jembatan. Kasus motif serupa. Tidak adanya tanda luka, melainkan jasad tersebut ditemukan dalam keadaan tubuhnya yang kering dan kaku.] Sepertinya ada serangan monster Blank... Bunyi notifikasi masuk. Dari Paman. Langsung kupencet. -Paman: Teguh, kamu melihat berita terbaru, kan? -Teguh: Ya, saya melihatnya. -Teguh: Link/Berita_Terkini... Kakiku bergoyang sendiri. Entah mengapa aku menjadi tidak tenang. Rasa perih pada mataku masih membakar. -Paman: Sebaiknya kamu investigasi besok. Untuk sekarang kau tidur dulu. Kumatikan ponsel dan segera mencoba tidur. Tiba-tiba, dada kiriku terasa berputar, seolah alat itu benar-benar memahami isi hatiku. Kilas balik yang samar-samar terlihat, bagaikan film jadul tanpa warna yang sulit untuk ku tonton. "Tolong kami!" Dengan keras kupejamkan mataku. "Sial! Jangan lagi!" sambil memukul kepalaku sendiri. Aku benar-benar harus bertindak sekarang. Aku tidak ingin ini menjadi akhir yang buruk. BERSAMBUNG