Menoleh ke arah jam dinding, waktu menunjukkan pukul 02.19. Aku tidak menyangka akan ada penyerangan di jam segini. Aku harus bergegas. Takkan kubiarkan satupun yang terlewat. Maaf karena sudah melanggar suruhanmu, Paman. Semoga saja dia tidak menyadari hal ini. Mengambil perlengkapanku—termasuk rol film untukku bertransformasi—dan kumasukkan ke dalam tas selempang. Kuangkat ponsel, mencari titik koordinat di mana kejadiannya berlangsung. Sinyal melemah. "Ayolah, ayolah, ayolah!" Aku tidak bisa berdiam diri di sini lebih lama. Dengan cepat kupakai sepatuku dan berlari keluar rumah. Kulihat sekeliling. Nampaknya tidak ada orang. Berlari dan terus berlari, tangan kananku sibuk mengangkat ponsel tinggi melebihi kepalaku—mencari sinyal yang hilang. Sinyal bodoh! Aku benar-benar tidak akan membelimu lagi! Bisa-bisanya di saat genting seperti ini, sinyalku bisa hilang. [YOUPUBE: WINDAH BATUBARA: MENGUMPULKAN BERBAGAI KOLEK...] Sinyal masuk. Notifikasi kembali mengalir masuk. Ah, dapat! Langsung kubuka aplikasi berita. Lokasi kejadian ada di sekitar taman. Cukup jauh dari tempat asalku. Aku mulai berlari. Kakiku terasa kaku dan semakin berat setiap kali menepakkan ke tanah. "Haa... haa...!" Napasku sesak, sangat sulit untuk kuatur. Kuangkat ponsel yang mulai seberat batu, menoleh peta di layar yang terang. Titik menunjukkan kalau aku tidak jauh dari peristiwa. "!" Dengan cepat aku bersembunyi di balik batang pohon besar. Kulihat kerumunan. Orang-orang tua berkumpul di sekitar jembatan. Tempat jasad itu ditemukan. Dari kejauhan, tidak adanya tanda-tanda Paman. Tidak bisa ku investigasi dari dekat. Aku mengandalkan ponselku. Peta di layar adalah satu-satunya cara yang tersisa bagiku untuk mencari keberadaan monster itu. Aku akan menaruh setiap tempat yang sudah kudatangi—untuk mempermudah pencarian. [DITEMPATKAN PADA TANDA] 'Oke, aku sudah menaruh tanda di sini. Itu artinya aku harus ke...' Kudekatkan mataku ke depan layar. Bingung. Di peta, semua jalan di sekitar sini buntu. Tidak ada tanda-tanda monster. Tidak ada jalanan yang hancur. Cerita apa yang sebenarnya monster itu curi? Menguap. Mataku sangat lelah, begitu sulit untuk fokus ke layar. Tiba-tiba, terasa guncangan dari tanah. Apa ini? Gempa? Seketika berhenti. Normal kembali. Kulihat kerumunan itu lagi. Tidak ada yang menyadarinya. Mereka masih sama seperti sebelumnya. Penasaran. Namun ada yang aneh. Dari dari keramaian aku melihat sesuatu. Gigi? Apa dia tersenyum? Namun giginya terlihat sangat besar. 'orang yang aneh.' entah mengapa ia seperti memutar kepalanya perlahan ke arahku. Aku harus pergi! Dengan cepat aku berlari menjauh. "Apa-apaan itu barusan?" Mungkin aku tengah berhalusinasi saja. Dan bisa juga karena aku sudah lelah. Kemudian kuangkat kedua lenganku, kutampar pipiku sendiri. Suaranya menggema disekujur tubuhku. "Sadar, sadar!" ... Aku tidak boleh lengah. Tujuan awalku adalah menginvestigasi titik lokasi terbaru. Kemungkinan menjadi tempat pelarian monster. Bisa saja dia masih di sekitar sini? [DITEMPATKAN PADA TANDA] [DITEMPATKAN PADA TANDA] Tidak ada petunjuk apapun! Aku bahkan sudah mengelilingi tempat ini berkali-kali. Kini mataku sangat lelah. Menarik napas panjang. Kulihat jam di ponselku. [WAKTU MENUNJUKKAN PUKUL 02.13] Sudah pukul 02.13 dan aku masih belum menemukan jejaknya sama sekali. Sepertinya dia sudah pergi menjauh. "Hoam..." Sudah waktunya untuk pulang dan tidur. * Kesunyian malam yang tenang. Akan tetapi aku tidak bisa tertidur. Apakah aku... insomnia? Tidak mungkin... Atau mungkin? Setiap kali kucoba pejamkan mata, tidak bisa. Mataku menolak untuk menutup. Yang selalu kupikirkan hanyalah peta. Jalan buntu. Tidak adanya tanda-tanda yang mencurigakan... Ngomong-ngomong terkait hal mencurigakan, entah mengapa jam pada ponselku sangat aneh. Tidak sesuai dengan yang ada pada jam dinding—! "Hah?" bahkan jam dindingku menunjukkan pukul 06.34 pagi hari. Apa itu juga rusak? Sinar cerah memancar melalui sela-sela dinding. Benar-benar sudah pagi. Apa aku sudah gila? Aku bahkan belum tidur sama sekali. Apakah aku benar-benar sudah terkena penyakit insomnia? Ponselku bergetar, memalingkan perhatianku. Notifikasi masuk. [1 PESAN BARU DARI PAMAN] -Paman: "..." Aku baru pertama kali melihat yang seperti ini. Tidak ada pesan sama sekali, hanya ada balon teks. Sepertinya ponselku sudah rusak. Untuk sekarang aku akan menghiraukannya, saatnya ku berangkat. Menjumpai titik-titik lokasi yang sudah ku beri tanda. Tidak lupa juga membawa semua perlengkapan didalam tas selempang. Namun, saat ku sampai di tujuan pertama, kudapati orang-orang yang dengan santainya melakukan kegiatan seperti biasanya. Bahkan tidak ada tanda-tanda garis polisi. Menoleh kembali ke arah orang-orang secara bergiliran. Anehnya, semua orang tampak mengenakan kacamata. Apakah ini semacam tren baru? Apa aku terlewat sesuatu? "Tidak ada tanda-tan...—!" seseorang menyenggolku dari samping. Lagi-lagi, orang berkacamata. "M-maafkan saya." "Ahh... i-i-iya, gapapa, hehe." Sial, setiap kali aku berbicara dengan orang, entah mengapa aku langsung grogi. Dalam benakku langsung terpikirkan sesuatu. Sesuatu yang menjanggal. 'kacamata itu...' gumamku curiga. "U-umm, saya izin bertanya, apakah sekarang ini lagi tren menggunakan kacamata?" tanyaku penasaran. Terlihat wajahnya yang kebingungan, satu alisnya naik ke atas, satunya tidak. "Kacamata?" nanya balik. Mendengar hal itu sontak membuatku terdiam sesaat. "Bukan apa-apa, hehe..." Seketika itu juga, semua orang nampak berubah. Visualnya benar-benar membuatku langsung merinding—melihat wujud mereka yang mengering. Keringat dingin bercucuran di pelepisku "A-apa yang...?" Kakiku mundur. Satu langkah. Dua langkah. Punggungku membentur sesuatu. Dinding. Aku terjebak. Mereka mengering. Semua. Kulit mereka mengencang. Mata mereka cekung. Mulut mereka terbuka. Tapi mereka tetap jalan. Tetap tersenyum. Aku tidak dapat bergerak. Bunyi notifikasi masuk. Dengan cepat kutarik keluar dari saku celana. Tanganku gemetar. -Paman: Enyahlah— Terhenti sejenak. -Paman: pembunuh! [Video Sekali Lihat] Bulu kudukku merinding. Sulit bagiku menelan ludah. ... Perlahan, jariku mulai mendekat ke layar. Tombol video terputar Video yang menunjukkan visual—membuatku mati rasa. Terlihat sesosok manusia yang mati mengering. Di pangkuannya ada anak kecil yang membelakangi kamera. Efek berkedip terus berulang, perlahan anak itu memutarbalikkan kepala. Tersenyum. Terus berkedip. Wajahnya perlahan berubah menjadi monster mengerikan. Senyumnya lebar. Terlalu lebar. Sampai kuping. Dan giginya... terlalu banyak. Dengan cepat kulepas ponselku dan ponsel itu terjatuh ke tanah. Tubuhku lemas. Aku terduduk. Cuma bisa menoleh ke arah ponsel. I-i-ini...! ... Semua penderitaan aneh ini belum usai. Sampai momen tersebut tiba—memperlihatkan sosok ayahku yang muncul dihadapanku. Suara yang sama. Wajah yang serupa. Dan satu kata "enyahlah!" Berbisik pelan. Aroma hangus tercium—menusuk hidungku. Layar menjadi gelap gulita. BERSAMBUNG