Suara ketukan pintu terdengar. Aku tersentak. Kelopak mataku yang sangat berat dipaksa terbuka lebar. Aku langsung memegang kepalaku berkali-kali. Panik. Napasku naik turun tak beraturan. Aneh. Bau hangus debu yang sedetik lalu mencekik paru-paruku mendadak hilang tanpa bekas. Berganti dengan hembusan angin sore yang sejuk dan aroma tanah kering yang familiar. Di depanku kegelapan pekat itu runtuh, digantikan oleh suasana riang tawa anak-anak. Aku sendiri masih terduduk di depan teras rumah, baru saja menerima uang tunai yang ada di genggamanku. Sebuah tepukan mendarat di pundakku, "Loh dek Teguh?" Suara Pak Adrian membuyarkan kepanikanku. Wajah Pak Adrian tampak bingung. Jangankan dia, aku sendiripun merasa kebingungan dengan apa yang telah terjadi. Seolah semuanya... nyata. "!" "A-apa yang...?" Betapa terkejutnya aku melihat wajah Pak Adrian perlahan menyusut, lalu mengering. Menoleh sekitar, visual mengerikan—tubuh anak-anak ikut mengering. Mereka semua menatap ke arahku. "Kamu kenapa dek Teguh?" Suara Pak Adrian perlahan berubah menjadi suara orang yang kukenali, Paman: "Bapak punya ayam kentaki, ayo makan sama-sama." Tanpa pikir panjang, aku langsung berlari terbirit-birit tak tahu arah. Sudah ku duga, ini pasti ulah monster itu! Tetapi, cerita apa yang ia serap hingga bisa melakukan hal ini??? Semua kegilaan ini mengacaukan pikiranku. Saat hendak menuju keluar gang. Tiba-tiba di sekelilingku mulai berubah, tembok-tembok tinggi bermunculan di depanku secara acak, mengunci pergerakanku. "Sial, aku terjebak!!!" "Siapa saja, tolong aku—!" Alangkah terkejutnya aku melihat sosok ayahku yang kini kembali. Menatap tajam kearahku. Senyumnya perlahan semakin besar dan terus membesar. Matanya menghitam, bau terbakar itu kini kembali. Napasku... semakin sesak. Jantungku seakan mau meledak. "Menyerah sajalah." suara serak yang terdistorsi dari Ayah. ... 'Tidak' gumamku. Aku telah melewati masa-masa sulit sejak lama. Tidak mungkin bagiku untuk menyerah sekarang. Dahulu aku sudah berjanji padanya untuk tidak putus asa semudah itu. Kakiku masih gemetar hebat. Napasku belum stabil sepenuhnya. Kemudian, ku cengkeram reaktor besi di dada kiriku. Terus kucengkeram hingga rasa sakit itu mulai terasa dan semakin perih. Seketika, semua yang ada disekitarku perlahan memudar. Ayahku berubah menjadi sosok wanita berleher panjang, ia menghampiriku. Wajahnya tepat didepanku. Bertatapan. Mencoba untuk terus mempermainkan pikiranku. Kucengkeram dan terus mencengkeram reaktor besi itu. "Ugh!" Rasa perih bagaikan tertusuk oleh bilah pisau yang perlahan menembus kulitku. Dalam bayang-bayangku, terlihat sosok Paman yang selama ini selalu ada untukku. Aku tidak bisa nyerah disini begitu saja. Semua yang disekitarku kini sudah pudar. Aku berdiri dibalik pohon yang sama. Malam hari. Orang-orang masih berkerumunan di sana. didepanku, monster itu mulai kabur menjauh. Tanpa kata-kata, aku langsung mengejarnya. "Nununununu!" teriak monster itu sembari berlari. Sia-sia baginya untuk berlari. Terus kukejar hingga dapat. Akan kuakhiri kisah buruk ini di sini juga. Kuambil barang pendukung berupa rol film di dalam tas. Membuka jaket dan menampilkan reaktor besi. Kupasangkan rol film itu. Sheriff the Jack—Assist! Kutekan tombol rol filmnya dan langsung terputar. Sebuah proyeksi terlihat didepanku, keluar melalui kedua mataku—memberiku kemampuan instan layaknya koboy. Kekuatan ini juga memberikanku sebuah utas koboy. Dan langsung saja kugunakan utas tali itu untuk menjerat dan menguncinya. Kulemparkan tali itu dengan berbentuk lingkaran. Tepat membelenggu monster yang tengah berlari. Kutarik dengan kuat. Ia pun terjatuh ke tanah. Rol film kulepaskan. Menghilangkan kemampuan serta utas tali tadi. Rol film itu perlahan ikut terbakar menjadi abu. Rol khusus yang hanya bisa kugunakan sekali saja. Tidak ada orang yang melihat kami. Hanya ada hembusan malam dan sinar bulan yang menyinari pertarungan kami. "Akan kuakhiri adegan ini." Mengambil Rol film transformasi. Memasangkannya pada reaktor besi. Diikuti dengan efek suara ruangan yang mendadak hening dan detak jantung yang menegangkan. Deg... Deg... Deg... Kutekan tombol di tengah rol film dengan menepuk dada kiri. Mengaktifkan sistem. Gimmik dari reaktor besi berbunyi. Sound... Speed! Camera... Roll! Diiringi dengan suara gulungan pita film mekanis yang berputar cepat dan bunyi frekuensi audio tinggi. Mengetuk kembali dada kiri. Mark It! Scene One, Take One! Bunyi cetrekan papan klap yang sangat nyaring. "Berubah." Mengepalkan tangan kanan dengan keras. Kutekan lebih keras ke dada. Gimmik dari reaktor kembali berbunyi, Action! Musik orkestra megah bercampur distorsi elektrik. Seketika tubuhku perlahan diselimuti kostum yang menjalar mulai kaki hingga ke kepala. Rolling... Cut-In! The Cinema! On Stage... ACTION! Kedua mata kostumku menyala dengan warna putih terang. "Nununu???" "Bersiaplah." Perlahan ku melangkah maju. Kakiku masih bergemetar, tetapi aku harus terus maju. "Enyahlah" Suara itu lagi. Kupalingkan perhatian. Terus melangkah. "Berani-beraninya—!" Sekilas aku teringat kembali dengan momen itu. Momen dimana ayahku berkata: "Kau adalah karya terbaik Ayah." Tidak ada kata mundur. "Berani-beraninya kau mempermainkanku!" Langsung berlari. Kuketuk dada kiriku dua kali. Energi memancar di kedua tanganku. "Nunu!!!" BLANK FISTS! Langsung kumelesatkannya ke perut monster. Suara hantaman keras menggema. "Nu... nu..." Hantaman berikutnya. Terus. Terus. Melesatkan pukulan terakhir ke bawah dagunya. Ia pun terpental mundur cukup jauh. Menepuk dada tiga kali dengan ritme cepat. Jantung berdegup kencang. Light... Camera... Energi besar dikaki bergejolak besar. Dengan cepat ku berlari menghampirinya. Monster itu mencoba bangkit, tapi sebelum itu terjadi, aku langsung dengan cepat melesatkan tendangan tepat di wajahnya. ACTION CLIMAX! "Nununu!!!" Tubuhnya langsung mulai menghitam dan mengeluarkan aroma pekat—layaknya sebuah gulungan pita yang terbakar. Sisa-sisa abu pita yang terbakar melayang ditiup angin malam, lenyap di tengah gelapnya malam. Setelah monster itu hendak menghilang sepenuhnya, ia menjatuhkan rol pendukung. Heartful in Mind—sebuah kisah yang monster itu curi dari korban tersebut. Sepertinya si korban sangat menyukai film berbau psikologi dan menciptakannya sendiri melalui pikirannya. ... Keheningan malam akhirnya kembali. Kulepas rol film untuk mengakhiri transformasi. Perlahan, kostum yang menyelimuti tubuhku memudar, berganti kembali menjadi jaketku yang lusuh. Aku jatuh berlutut di atas tanah. Bertumpu pada kedua tanganku. Napas yang sedari tadi kutahan kini keluar dalam sekali hembusan yang panjang dan penuh gemetar. Dada kiriku terasa hangat—reaktor besi itu akhirnya kembali tenang. Kupaksakan diri untuk berdiri, menatap kerumunan orang dari kejauhan di rindang pepohonan yang tampaknya masih tidak menyadari perkelahian barusan. "Ingat ini, jangan biarkan siapapun mengetahui identitas, janji?" Putaran video masa lalu tentang janjiku dengan Paman. Terlihat pihak medis datang untuk menjemput mayat di kolong jembatan itu. Senyumku kembali terukir. Satu lagi cerita yang harus kusimpan. "Beristirahatlah dari kisahmu yang melelahkan." Pertarungan malam ini telah usai, tapi aku tahu, ini bukanlah akhir dari putaran film panjang yang kuhadapi. BERSAMBUNG